Minggu, 04 Desember 2022

Menyusun Best Practices

 

LK 3.1 Menyusun Best Practices

 

Nama                    : Rido Amriadi, S.Pd

NIM                       : 2501022152

Program Studi       : Seni Budaya

Kelas                    : 005, Grup 3

LPTK                    : Universitas Negeri Semarang (UNNES)

 

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)  Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak) Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran

 

Lokasi

SMP Negeri 9 Praya Barat

Lingkup Pendidikan

Sekolah Menengah Pertama

Tujuan yang ingin dicapai

1.    Siswa dapat berkarya seni meski faktor kesediaan bahan / alat seni terbatas, dan guru menjadi inovatif

2.    Minat siswa dalam belajar menjadi meningkat

3.    Siswa memanfaatkan IT dalam Proses Pembelajaran

Penulis

Rido Amriadi, S.Pd

Tanggal

03 Desember 2022

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

 

·         Kendala alat dan bahan dalam praktik seni rupa dalam pembelajaran seni budaya mengakibatkan kurang optimalnya pembelajaran praktik siswa dalam pembelajaran Seni terutama saat akan Praktik (Berkarya Seni). Alat dan Bahan yang tersedia di lingkungan sekolah tidak lengkap / terbatas. Sehingga mungkin guru harus memanfaatkan Alat seni yang ada, dan mengembangkan tekniknya sehingga lebih menarik untuk siswa, seperti Belajar teknik Pointilis.

·         Dengan mengembangakn teknik untuk berkarya, akan meringankan siswa dalam menyediakan alat dan bahan dalam proses pembelajaran dan proses pembejalaran jadi lebih optimal. Peran dan tanggung jawabnya sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran, motivator yang menumbuhkan motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, inisiator yang memilih dan mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa, informator yang memberikan informasi tentang materi pembelajaran kepada siswa, serta evaluator yang memberikan penilaian terhadap hasil yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran.

·         Ketersediaan alat dan bahan dalam berkarya seni, Bisa  berdampak pada minat siswa saat akan belajar terutama pembelajaran seni, yang biasanya ada Praktik yang mengharuskan siswa berkarya Seni. Sehingga di pembelajaran sebelumnya siswa hanya mengulas materi yang di sampaiakan tanpa adanya kegiatan Praktik.

·         Selain itu di sekolah, siswa mungkin tidak mendapatkan pengalaman belajar dengan memanfaatkan IT, mencari refrensi, mencari informasi dari pembelajaran Seni, yang dimana siswa bisa mengakses lebih banyak lagi tentang seni, tentu dengan bimbingan guru saat pembelajaran.

 

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat,

 

·         Dalam proses mencapai tujuan tersebut, tantangan yang dialami yaitu, rendahnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan kurangnya kesiapan siswa membawa alat dan bahan dalam pembelajaran terutama saat praktik, sehingga mengakibatkan kurang optimalnya proses pembelajaran.

·         Dan proses ini melibatkan banyak pihak, seperti siswa yang menjadi titik berat dari masalah yang muncul, rekan guru yang senantiasa memberikan masukan dan saran, kepala sekolah selaku pengambil kebijakan, dosen pembimbing yang selalu memberikan bimbingan dalam dan di akhir proses dengan tujuan untuk menyempurnakan rencana praktik yang dilakukan, serta rekan-rekan mahasiswa PPG yang tentunya memberikan masukan dalam proses yang berlangsung serta saran-saran yang membangun, untuk mecapai tujuan yang di inginkan.

 

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini

 

·         Langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan yang dihadapi berupa mencari referensi di media tentang model dan teknik-teknik dalam berkarya seni yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Kemudian memilih serta berdiskusi dengan rekan yang lebih berpengalaman tetang masalah yang dihadapi dan solusi yang didapat.

·         Melakukan komunikasi terhadap rekan guru, kepala sekolah serta pengawas tentang masalah yang dihadapi dan meminta masukan dari sudut pandang mereka tentang masalah dan solusi yang akan dilakukan, keterlibatan semua pihak sangat membantu terselesaikannya praktik yang dilakukan.

·         Strategi yang digunakan adalah menerapkan model pembelajaran PBL dan PjBL. Dalam proses pembelajaran yang sudah di laksanakan Alhamdulillah berjalan dengan baik, walaupun tetap ada kendala dalam pelaksanaannya. Dalam penyempurnaannya penulis mendapat masukan saat diskusi di LMS dan meet Zoom,  dengan keterlibatan banyak pihak d yakni Dosen LPTK serta Guru pamong yang selalu memberikan masukan membangun, rekan-rekan PPG melalui ruang kolaborasi yang memberikan masukkan serta saran, serta pihak-pihak di lingkungan sekolah, membuat proses ini berjalan dengan baik.

·         Dalam proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi, penulis menggunaan laptop dan gadget sebagai media dalam pemaparan materi, bahan ajar berupa buku paket, LKS dan berbagai sumber ajar lain yang di dapat di internet yang relevan dengan materi pembelajaran.

 

Refleksi Hasil dan dampak

Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut

 

·         Dampak yang didapat yaitu siswa merespon baik karena dengan berkarya seni dibimbing penulis, teknik berkarya yang baru bagi siswa, kemudahan menyediakan bahan dalam berkarya dan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran meningkat serta proses pembelajaran praktik menjadi optimal dan efektif. Siswa juga menjadi semangat dalam berkarya dan dapat menghasilkan produk karya seni yang di pelajari sesuai materi.

·         Respon dari berbagai pihak terkait aksi yang dilakukan yaitu siswa sangat menikmati pembelajaran dan motivasi dalam belajar meningkat, dari dosen dan guru pamong serta rekan PPG memberikan respon yang positif dengan dukungan dan masukan yang membangun dalam proses yang terjadi, serta dari pihak sekolah sangat mendukung inovasi yang dilakukan guru dalam aksi yang sudah dilakukan di laksanakan selama di kelas.

·         Dari proses keseluruhan didapat, dengan menggunakan model PBL dan PjBL yang memanfaatkan teknik Pointilis dalam berkarya, mendemonstrasikan saat berkarya, dan memanfaatkan IT dalam pembelajaran di kelas. minat siswa dalam pembelajaran meningkat dan pembelajaran berjalan optimal.

 

 

Selasa, 22 Desember 2015

PEMBELAJARAN SENI RUPA DI SMK (SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN) MENYASAR DUNIA KERJA DAN PENDIDIKAN TINGGI

TELAAH KURIKULUM

gambar: http://www.yayasan-bppi.or.id/images/artikel/ruang-kelas-4.jpg

PEMBELAJARAN SENI RUPA DI SMK (SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN) MENYASAR DUNIA KERJA DAN PENDIDIKAN TINGGI
Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan waktu. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, dan terutama pada bidang pendidikan. Memasuki abad ke-21, paradigma pembangunan yang merujuk knowledge-based economy tampak kian dominan. Paradigma ini menegaskan tiga hal. Pertama, kemajuan ekonomi dalarn banyak hal bertumpu pada basis dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, hubungan kausalitas antara pendidikan dan kemajuan ekonomi menjadi kian kuat dan solid. Ketiga, pendidikan menjadi penggerak utama dinamika perkembangan ekonomi, yang mendorong proses transformasi struktural berjangka panjang (Alhumami, 2004).
Pendidikan kejuruan yang dikembangkan di Indonesia diantaranya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang keahlian seni rupa dan kriya, dirancang untuk menyiapkan peserta didik atau lulusan yang siap memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan sikap profesional di bidang kejuruan program keahlian seni rupa dan kriya. Lulusan pendidikan kejuruan, diharapkan menjadi individu yang produktif yang mampu bekerja menjadi tenaga kerja menengah dan memiliki kesiapan untuk menghadapi persaingan kerja.
Upaya untuk mencapai kualitas lulusan pendidikan kejuruan bidang keahlian seni rupa dan kriya yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja tersebut, perlu didasari dengan kurikulum yang dirancang dan dikembangkan dengan prinsip kesesuaian dengan kebutuhan stakeholders. Kurikulum pendidikan kejuruan secara spesifik memiliki karakter yang mengarah kepada pembentukan kecakapan lulusan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pekerjaan tertentu. Kecakapan tersebut telah diakomodasi dalam kurikulum SMK yang meliputi kelompok Normatif, Adaptif dan kelompok Produktif.
Pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam mewujudkan sumber daya manusia yang tangguh untuk menghadapi persaingan bebas. Termasuk pendidikan kejuruan yang menyiapkan peserta didik atau sumber daya manusia yang memiliki kemampuan kerja sebagai tenaga kerja menengah sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan dunia industri. Oleh karena itu sesuai dengan tuntutan perkembangan pendidikan kejuruan, maka perlu adanya pembaharuan pendidikan dan pelatihan kejuruan di SMK bidang keahlian seni rupa dan kriya untuk masa depan. Untuk mencari solusi dari tantangan tersebut di atas, SMK sebagai salah satu lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan kejuruan harus mampu memberikan layanan pendidikan terbaik kepada peserta didik walaupun kondisi fasilitasnya sangat beragam. Sebagaimana yang dikemukakan Djojonegoro (1998), bahwa: “Secara teoritik pendidikan kejuruan sangat dipentingkan karena lebih dari 80 % tenaga kerja di lapangan kerja adalah tenaga kerja tingkat menengah ke bawah dan sisanya kurang dari 20 % bekerja pada lapisan atas. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan kejuruan jelas merupakan hal penting”.
Karakteristik pendidikan kejuruan bidang keahlian seni rupa dan kriya dalam proses pembelajaran merangsang stimulus berupa pengalaman belajar untuk membantu mereka dalam mengembangkan diri dan potensinya yang ditampilkan dalam prinsip “learning by doing” yang berorientasi pada dunia kerja. Karakteristik siswa pendidikan kejuruan bidang keahlian seni rupa dan kriya yang berada pada kondisi masa remaja yang merupakan masa peralihan antara masa anak dengan dewasa yang mempunyai gejolak atau kemelut yang berkenaan dengan segi afektif, sosial, intelektual dan moral, oleh karena itu maka pendidikan kejuruan bidang keahlian seni rupa dan kriya untuk lebih efisien diperlukan “program antara” (bridging program) guna memantapkan kemampuan dasar tamatan SMK bidang keahlian seni rupa dan kriya yang sudah berpengalaman kerja, supaya siap melanjutkan ke program pendidikan yang lebih tinggi.
Pendidikan kejuruan bertujuan pula untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Dari tujuan pendidikan kejuruan tersebut mengandung makna bahwa pendidikan kejuruan di samping menyiapkan tenaga kerja yang profesional juga mempersiapkan peserta didik untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan program kejuruan atau bidang keahlian.
Dengan demikian, dari tujuan pendidikan kejuruan tersebut dapat disimpulkan bahwa memang benar lulusan dari pendidikan kejuruan ini ditujukan untuk menyasar dunia kerja dan pendidikan tinggi. Pada dasarnya lulusan dari pendidikan kejuruan ini hanya diarahkan pada pematangan keahlian pada bidang yang dikuasainya untuk menjadi tenaga pekerja yang professional. Namun seiring berkembangnya zaman atau pengaruh dari globalisasi ini, di mana pendidikan menjadi suatu yang sangat penting dalam kehidaupan yang berpengaruh pula pada pada tujuan pendidikan kejuruan ini yakni mempersiapkan peserta didika untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tetap sesuai dengan bidang keahliannya. Selain itu, pendidikan kejuruan (SMK) ini ditujukan untuk menghasilkan SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas yang dapat mengatasai permasalan-permasalahan globalisasi yang terjadi di zaman sekarang ini.



pustaka:

Supriyono, F.X.. 2015. Pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya di Era Globalisasi. Terdapat pada 

Supriyono, F.X.. 2015. Karakteristik Dan Tuntutan Perkembangan Pendidikan Kejuruan Bidang Keahlian Seni Rupa Dan Kriya. Terdapat pada 


Minggu, 13 Desember 2015

KURIKULUM 2006 (KTSP) SENI BUDAYA TINGKAT PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR,KELAS III SEMESTER 1

TELAAH KURIKULUM
TUGAS INDIVIDU KE-2

KURIKULUM 2006 (KTSP) SENI BUDAYA TINGKAT PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR,KELAS III SEMESTER 1

Pada kurikulum 2006 (KTSP) dalam mata pelajaran seni budaya tingkat sekolah dasar (SD) pada umumnya dalam mata pelajaran seni budaya ini terdapat empat bidang kesenian, yaitu: seni rupa, seni musik, seni tari, dan keterampilan.

A.    JENIS DAN BENTUK KEGIATAN
1.      Seni Rupa
·         Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa dua dimensi
·         Menunjukkan sikap apresiatif terhadap simbol dalam karya seni rupa dua dimensi
·         Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai diri sendiri
·         Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dari motif hias daerah setempat.
·         Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi
·         Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol dalam karya seni rupa tiga dimensi
·         Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam semesta.
·         Memberi hiasan atau warna pada benda tiga dimensi

2.      Seni Musik
·         Mengidentifikasi berbagai symbol nada dalam lagu sederhana
·         Menghubungkan antara Symbol nada dengan elemen musik
·         Menghubungkan antara Symbol nada dengan tempo dalam lagu
·         Memainkan alat musik ritmis
·         Menyanyikan lagu wajib,lagu daerah,dan lagu anak-anak
·         Menjelaskan symbol tempo dalam lagu
·         Menjelask-an  makna ansambel
·         Menghubungkan antara symbol nada dengan elemen musik
·         Menghubungkan symbol nada dengan tempo dalam lagu
·         Memainkan musik dalam bentuk ansambel dengan alat musik ritmis sederhana
·         Menyanyik-an lagu daerah dan lagu anak- anak dengan iringan sederhana

3.       Seni Tari
·         Menjelaskan symbol dalam seni tari
·         Menunjukkan sikap apresiatif terhadap simbol yang terkandung dalam karya seni tari berdasarkan pengamatan terhadap pertunjukanMenyiapkan tarian pendek bertema tanpa iringan
·         Menyajikan tarian pendek bertema tanpa iringan
·         Menghubungkan gerak, busana dan perlengkapan dengan symbol dalam seni tari.
·         Menunjuk-kan sikap apresiatif terhadap symbol yang terkandung dalam karya seni tari berdasark-an pengamat-an pertunjukkan
·         Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol yang terkandung dalam karya seni tari Nusantara daerah setempat
·         Menyiapkan penyajian tarian pendek bertema dengan iringan
·         Menyajikan tarian pendek bertema dengan iringan        
·         Mengadakan Pementasan perpaduan seni tari dan music

4.      Keterampilan
·         Menampilkan sifat apresiatif terhadap benda yang digerakkan oleh angin
·         Merancang benda yang dapat digerakkan oleh angin dari bahan kertas
·         Membuat benda yang dapat digerakkan oleh angin dari bahan kertas
·         Menampilkan sikap apresiatif terhadap benda yang digerakkan oleh angin
·         Merancang benda yang dapat digerakkan oleh angin dari bahan selain  kertas
·         Membuat benda yang dapat digerakkan oleh angin dari  bahan selain kertas
·          
B.     METODE PEMBELAJARAN
1)      Ceramah
Metode Ceramah (Preaching Method) yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.
2)      Diskusi
Metode diskusi (Discussion method), Muhibbin Syah (2000), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama (socialized recitation).
3)      Latihan
Metode latihan adalah suatu teknik mengajar yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan latihan agar memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.
4)      Pemberian Tugas
Metode ini adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
5)      Tes Tulis
Metode ini adalah metode di mana guru memberikan soal yang nantinya akan dikerjakan oleh siswa guna memberikan penilaian dan menguji ingatan siswa dalam proses belajar.

C.    CARA MELAKSANAKAN
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Awal
1.      Apersepsi
2.      Salam pembuka
3.      Mengabsen siswa
4.      Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan
5.      Menayangkan film dokumenter karya seni rupa
Kegiatan Inti
1.      Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
·         Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa dua dimensi
·         Diskusi kelas tentang simbol seni rupa dua dimensi
2.      Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
·         Diskusi kelompok tentang unsur-unsur dasar karya seni rupa
·         Guru menugaskan siswa untuk menjelaskan simbol dalam karya seni rupa dua dimensi
3.      Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, siswa:
·         Bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
·         Bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan
Kegiatan Akhir
Dalam kegiatan Akhir, guru:
·         Tugas menceritakan kembali simbol-simbol dalam karya senii rupa dua dimensi

Tabel 1. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
v  Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru melibatkan peserta didik dalam mencari dan menghimpun informasi, menggunakan media untuk memperkaya pengalaman mengelola informasi, memfasilitasi peserta didik berinteraksi sehingga peserta didik aktif, medorong peserta didik mengamati berbagai gejala, menangkap tanda-tanda yang membedakan dengan gejala pada peristiwa lain, mengamati objek di lapangan dan labolatorium.
v  Elaborasi
Dalarn kegiatan elaborasi, guru mendorong peserta didik membaca dan menuliskan hasil eksplorasi, mendiskusikan, mendengar pendapat, untuk lebih mendalami sesuatu, menganalisis kekuatan atau kelemahan argumen, mendalami pengetahuan tentang sesuatu, membangun kesepakatan melalui kegiatan kooperatif dan kolaborasi, membiasakan peserta didik membaca dan menulis, menguji prediksi atau hipotesis, menyimpulkan bersama, dan menyusun laporan atau tulisan, menyajikan hasil belajar.
v  Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru memberikan umpan balik terhadap apa yang dihasilkan peserta didik melalui pengalaman belajar, memberikan apresiasi terhadap kekuatan dan kelemahan hasil belajar dengan menggunakan teori yang dikuasi guru, menambah informasi yang seharusnya dikuasai peserta didik, mendorong peserta didik untuk menggunakan pengetahuan lebih lanjut dari sumber yang terpecaya untuk lebih menguatkan penguasaan kompetensi belajar agar lebih bermakna. Setelah memeperoleh keyakinan, maka peserta didik mengerjakan tugas-tugas untuk mengasilkan produk belajar yang kongkrit dan kontekstual. Guru membantu peserta didik menyelesikan masalah dan menerapkan ilmu dalam aktivitas yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

D.    INDIKATOR UTAMA
Seni Rupa
  
TEORI
PRAKTIK
APRESIASI
•   Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa dua dimensi
•   Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi
•   Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol dalam karya seni rupa tiga dimensi

•   Menunjukkan sikap apresiatif terhadap simbol dalam karya seni rupa dua dimensi
•   Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai diri sendiri
•   Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dari motif hias daerah setempat.
•   Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam semesta.
•   Memberi hiasan atau warna pada benda tiga dimensi
Memamerkan karya seni rupa.
Tabel 1. Indikator utama seni rupa

Seni Musik
TEORI
PRAKTIK
APRESIASI
•   Mengidentifikasi berbagai symbol nada dalam lagu sederhana
•   Menjelaskan symbol tempo dalam lagu.
•   Menjelask-an  makna ansambel.
•   Menghubungkan antara symbol nada dengan elemen musik.
•   Menghubungkan symbol nada dengan tempo dalam lagu
•   Menghubungkan antara Symbol nada dengan elemen musik
•   Menghubungkan antara Symbol nada dengan tempo dalam lagu
•   Memainkan alat musik ritmis
•   Memainkan musik dalam bentuk ansambel dengan alat musik ritmis sederhana
•   Menyanyikan lagu wajib,lagu daerah,dan lagu anak-anak
•   Menyanyik-an lagu daerah dan lagu anak- anak dengan iringan sederhana.

Tabel 1. Indikator utama seni musik

Seni Tari
TEORI
PRAKTIK
APRESIASI
•   Menjelaskan symbol dalam seni tari
•   Menjelaskan symbol tempo dalam lagu.
•   Menjelask-an  makna ansambel.
•   Menghubungkan antara symbol nada dengan elemen musik.
•   Menghubungkan symbol nada dengan tempo dalam lagu
•   Menunjukkan sikap apresiatif terhadap simbol yang terkandung dalam karya seni tari berdasarkan pengamatan terhadap pertunjukan
•   Menyiapkan tarian pendek bertema tanpa iringan
•   Memainkan musik dalam bentuk ansambel dengan alat musik ritmis sederhana
•   Menyajikan tarian pendek bertema tanpa iringan
•   Menyanyik-an lagu daerah dan lagu anak- anak dengan iringan sederhana.

Tabel 1. Indikator utama seni musik
Keterampilan
TEORI
PRAKTIK
APRESIASI
•   Menampilkan sifat apresiatif terhadap benda yang digerakkan oleh angin
•   Menampilkan sikap apresiatif terhadap benda yang digerakkan oleh angin.

•   Merancang benda yang dapat digerakkan oleh angin dari bahan kertas
•   Membuat benda yang dapat digerakkan oleh angin dari bahan kertas
•   Merancang benda yang dapat digerakkan oleh angin dari bahan selain  kertas
•   Memamerkan Karya Seni
•   Membuat benda yang dapat digerakkan oleh angin dari  bahan selain kertas.

Tabel 1. Indikator utama keterampilan

E.     PERSENTASE LOKAL-NASIONAL-INTERNASIONAL
Dalam Kurikulum KTSP, lebih banyak menekankan persentase Lokal, sekitar 85 %, dibuktikan dengan bahan ajar dalam RPP,Buku panduan dan konsep KTSP itu sendiri mengenai materi-materi yang di muat lebih bersifat ke daerah dan budaya lokal atau sekitar.



Bahan Bacaan:
Materi Kuliah Telaah Kurikulum – Pertemuan Kedelapan, Presentasi Kelompok 2 [Neli Syamsiyah, Ni Made Kusuma Dewi, Komang Juliawan, Komang Wirya Adnyana, Dewa Putu Sudiarta, danKholilolloh] (19 Oktober 2015)